Cerita Gempa lombok
GEMPA LOMBOK
LOMBOK,29 juli 2018.pada hari itu terjadi gempa yang menimpa tanah kelahiranku,gempa yang dikabarkan berkekuatan 6,4 itu membuat banyak orang meninggal dunia, luka-luka dan menyebabkan kerugian yang sangat besar. setelah gempa yang berkekuatan 6,4 tersebut pada tanggal 5 agustus 2018 terjadi lagi gempa yang lebih besar yaitu berkekuatan 7.0 yang menyisakan luka khususnya pada masyarakat Lombok bagian Utara.
Minggu,5 agustus 2018,malam itu sekitar pukul 19.20 WITA,aku bersama kakak lelakiku pergi untuk mencari makan,karena pada saat itu kebetulan ibu kami tidak memasak.setelah selesai membeli apa yang kami inginkan,kami pun segera bergegas pulang. Sebelum kami sampai rumah ban motor yang kami kendarai serasa pecah karna kami hampir saja kecelakaan karnanya,ternyata itu bukan ban motor yang pecah namun sekarang kami sedang diguncang dengan kekuatan yang amat dahsyat.aku dan kakakku terus berteriak dengan menyebutkan lapas-lapas allah dan kami mendengar banyak orang menangis,berteriak dan bangunan-bangunan yang saya rasa sekstika itu roboh.seketika aku mengingat keluarga yang berada di rumah,aliran listrik juga saat itu padam semakin membuat hatiku semakin takut.dalam pemikiranku apakah akan terjadi kiamat,setelah itu aku menyuruh kakakku untuk segera pulang kami pun melanjutkan dengan hati-hati.setelah sampai kami lansung di peluk oleh kedua orang tuaku sambil menangis sejadi jadinya.
Pada malam itu aku melihat rumahku sudah roboh semua,bukan hanya rumahku saja melainkan rumah tetangga-tetanggaku juga sudah hancur. Malam semakin larut dan berita hoax tsunamipun menakuti kami dengan bumi yang terus bergetar pada malam itu kami semua pergi berlari ke daratan yang leih tinggi,saat itu kami tidak membawa apa-apa di dalam pemikiran ku hanya berlari sejauh mungkin untuk menghindari air tsunami yang katanya sudah sampai 2 km.
Malam itu kami semua benar-benar tidak tidur sama sekali karena tidak ada malam yang terlewat oleh getaran.malam pun terasa sangat sunyi karena binatang-binatang kecil pun tidak bersuara,yang ada hanya tangis dari kami dan doa-doa yang kami panjatkan.Kami tidur beralaskan daun kelapa dengan dingin yang amat sangat karena angin juga begitu besar malam itu,malam berlalu begitu lama hingga tiba saatnya jam 5 dini hari aku dan keluargaku pun turun dari bukit untuk melihat keadaan rumah kami,pagi itu tangis semua warga pecah melihat apa yang tengah mereka lihat bukan hanya rumah yang hancur melinkan masid,jalan,dan bangunan-bangunan lain juga hancur lebur.
Pulau yang dulunya dijuluki pulau seribu masjid dalam semalam berubah menjadi pulau seribu tenda. Pagi itu kami sudah mendirikan beberapa tenda,dan makan alakadarnya karena sumbangan pada hari itu belum datang.
Pengalaman ini merupakan pengalaman yang tidak akan aku lupakan karena pada bulan itu juga aku merayakan umurku yang ke 18 tahun. Sekian cerita dari saya terima kasih.
SALAM TIOQ,TATA,TUNAQ



Komentar
Posting Komentar